Minggu, 06 Januari 2013

Bimbingan kelompok

Diposkan oleh Gladys Igirisa di 08.41

Ada banyak kelompok yang dibentuk berdasarkan kesamaan minat, profesi, marga/klan, kampung asal, domisili, hobby, agama, alumni sekolah tertentu, dan sebagainya. Dan semua ini rupanya seperti mengingatkan kepada saya, bahwa sesungguhnya manusia tidak dapat hidup sendiri. Manusia adalah makhluk sosial. Dalam hidup dan kehidupannya, manusia selalu akan berhubungan dengan kelompok apa pun, manusia selalu akan menjadi bagian dari kelompok apapun. Dan dalam banyak hal, kelompok dimana kita hidup, tumbuh dan berkembang mempunyai andil besar dalam membentuk nun jauh dibawah sadar kita, sebuah gugusan nilai dasar, yang juga sering dikenal dengan “believe system”.
Ada banyak batasan yang diberikan para ahli tentang kelompok. Namun dalam buku ini saya menyajikan batasan kelompok dalam perspektif psikologi. Dalam buku Psikologi Sosial 2 tulisan Robert A. Baron dan Donn Byrne, kelompok dalam pandangan psikolog-psikolog sosial adalah sekumpulan orang yang dipersepsikan terikat satu sama lain dalam sebuah unit yang koheren pada derajat tertentu. Menurut Lickel dkk (2000) dalam Baron dan Byrne (2003), pada derajat koherensi 1 – 9, kelompok-kelompok dengan anggota yang memiliki hubungan yang intim, memiliki minat yang sama pada suatu hal, berkumpul dalam sebuah periode waktu tertentu secara sengaja, akan memiliki derajat koherensi yang tinggi. Dalam konteks ini, kelompok yang terbentuk pada sebuah pelatihan tentunya memiliki derajat koherensi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok yang terdiri dari orang-orang yang secara kebetulan hadir pada tempat dan waktu yang sama, misalnya para penonton sepak bola. Mungkin saja, beberapa diantara mereka memiliki hubungan yang akrab tetapi secara keseluruhan mereka bukanlah kelompok yang koheren dan memiliki ikatan interaksi yang intensif.

Ciri Kelompok              
Menurut Sherif (dalam Gerungan, 2004), terdapat 4 ciri utama sebuah kelompok sosial, untuk membedakannya dari berbagai bentuk interaksi sosial lainnya, yaitu :
1.     Motif yang sama antara anggota kelompok;
2.     Reaksi-reaksi dan kecakapan yang berlainan antara anggota kelompok;
3.     Penegasan struktur kelompok;
4.     Penegasan norma-norma kelompok.
Dalam konteks sebuah pelatihan, 4 ciri tersebut diatas saya uraikan sebagai berikut :
1.    Motif yang sama antara anggota kelompok;
Para peserta sebuah pelatihan, baik sebagai sebuah kelompok besar secara keseluruhan maupun sebagai kelompok kecil ketika mereka telah dibagi dalam beberapa kelompok kecil, sudah pasti memiliki sebuah motif yang sama dimana mereka harus bekerja sama untuk menyelesaikan berbagai tugas dalam setiap simulasi maupun permainan.
2.    Reaksi-reaksi dan kecakapan yang berlainan antara anggota kelompok;
Dalam sebuah kelompok peserta pelatihan, ketika kelompok ini dihadapkan pada berbagai aktifitas bersama untuk pencapain tujuan bersama yang telah ditetapkan, akan bermunculan reaksi-reaksi yang berbeda dari setiap individu dalam kelompok tersebut. Berdasarkan pengalaman saya, reaksi yang berbeda dari setiap individu biasanya terjadi karena adanya perbedaan dalam believe system setiap individu tersebut. Tentang believe system, akan saya uraikan pada bagian selanjutnya tentang hypnosis. Disamping reaksi – reaksi yang berbeda, juga muncul kecakapan yang berbeda dari setiap individu anggota kelompok dalam menyikapi berbagai aktifitas atau permainan yang mereka ikuti. Perbedaan ini dapat mendorong distribusi tugas sesuai kecakapan masing-masing tersebut.
3.    Penegasan struktur kelompok;
Penegasan struktur kelompok dalam hal ini lebih pada penegasan peran masing-masing anggota kelompok dalam setiap aktifitas bersama. Peran masing-masing anggota kelompok, idealnya tidak jauh dari latar belakang believe system dan kecakapan masing-masing anggota kelompok tersebut. Dari pengalaman, biasanya dalam sebuah pelatihan, ada yang berperan sebagai ketua/bos, pekerja, penyemangat, pemikir, bahkan ada juga yang berperan sebagai juru bicara.
4.    Penegasan norma-norma kelompok.
Masih menurut Sherif, norma kelompok dalam konteks ini berkaitan dengan cara-cara tingkah laku yang diharapkan dari semua anggota kelompok. Dalam konteks peserta pelatihan, hemat saya norma disini termasuk didalamnya bagaimana partisipasi aktif dari semua anggota kelompok ketika kelompok dihadapkan pada sebuah tugas atau aktifitas.

Tentang Dinamika Kelompok
Dinamika kelompok adalah cermin pasang surutnya sebuah kelompok. Untuk kelompok peserta sebuah pelatihan, dinamikanya dimulai ketika mereka mulai berdatangan saat registrasi, acara pembukaan, penyajian materi sampai pada acara penutupan bahkan pada pasca pelatihan, dapat diamati dinamika sebuah kelompok dari jaringan kontak yang terbangun diantara sesama peserta. Proses dinamika kelompok dimulai dari tahap “forming” dimana individu sebagai pribadi yang masuk ke dalam kelompok dengan latar belakang pendidikan, ruang lingkup kerja dan jenis kerja yang berbeda. Mereka belum berkenalan, muncul ketidakpastian, perasan cemas, tetapi ada juga sebagian yang antusias, mereka mulai bersosialisasi dan melakukan pengujian atas perilaku mereka dan kelompok. Mereka mengemukakan isu pokok, tentang “siapa kami”, “siapa orang-orang dalam kelompok ini” dan “apa tugas kami”. Setelah mereka masuk dalam kelompok dan mulai berdiskusi terjadilah “storming”. Konflik mulai bermunculan, mulai ada yang frustrasi, sebagian menolak kelompok, ada persaingan antara anggota kelompok. Muncul isu-isu pokok “apa harapan saya terhadap orang lain dalam kelompok ini, apa yang mereka harapkan dari saya” dan “apa manfaat kelompok ini bagi saya”.
Setelah itu maka kelompok akan berdinamika dalam proses “norming” dalam rangka pencarian bentuk serta kerangka acuan bersama. Saat ini dalam kelompok mulai terjadi harmonisasi, ada upaya untuk mengidentifikasi kelompok, mulai ada yang bernegosiasi, kerjasama mulai terbina diantara mereka, dan jika ada konflik, konflik tersebut mulai teratasi. Isu pokok yang mengemuka pada tahap ini adalah “bagaimana kita dapat bekerja sama dengan baik” dan “bagaimana kita dapat mencapai tujuan kelompok kita”. Jadi ada semacam kesadaran kolektif untuk bekerjasama mencapai tujuan bersama. Kemudian pada tahap akhir, bermodalkan norma atau kerangka acuan bersama inilah, kelompok melakukan sebuah kegiatan “performing”. Pada tahap ini, kelompok telah membuat peta kekuatan dan kelemahan, kelebihan dan kekurangan, kerjasama dan sinergi telah terjalin sehingga kelompok menjadi lebih produktif.  Isu pokoknya telah bergeser pada tatanan yang lebih tinggi, “bagaimana kita dapat mengukur keberhasilan kita”.
Setelah kelompok mulai melakukan “performing”, supaya hubungan emosional antara anggota kelompok tetap terpelihara, hemat kami tawakan Jalaluddin Rahmat (1996) tentang beberapa peran dibawah ini kiranya dapat menjadi acuan :
1.     Encourager (penggalak), memuji, menyetujui, dan menerima kontribusi anggota. Ia menunjukkan kehangatan dan kesetiakawanan dalam sikapnya terhadap anggota kelompok yang lain, memberikan penghargaan dan pujian dan dalam berbagai hal menunjukkan pengertian dan penerimaan terhadap pandangan, gagasan, dan saran orang lain.
2.     Harmonizer (wasit), melerai pertikaian diantara anggpta-anggota yang lain, berusaha mendamaikan perbedaan, mengurangi ketegangan pada situasi konflik – melalui lelucon atau kata-kata yang menentramkan.
3.     Compromiser (kompromis), bekerja dari dalam konflik yang melibatkan gagasan atau posisi. Ia mungkin menawarkan kompromi dengan merendah, mengakui kekeliruan, mendisiplinkan diri untuk mempertahankan harmoni kelompok, atau memilih sikap tengah-tengah dalam menghadapi kelompok.
4.     Gatekeeper and expediter (penjaga gawang), berusaha membuka saluran komunikasi dengan mendorong pertisipasi yang lain (“Kita belum mendengar pendapat tuan X”) atau dengan mengusulkan aturan arus komunikasi (“Sebaiknya kita membatasi lamanya pembicaraan, sehingga setiap orang punya kesempatan untuk memberikan kontribusinya”).
5.     Standard setter or ego ideal (pembuat aturan), menetapkan kriteria kelompok dalam menjalankan fungsinya atau menggunakan kriteria dalam menilai kualitas kelompok.
6.     Group observer and commentator (pengamat kelompok), menyimpan catatan berbagai aspek proses kelompok dan memberikan data tersebut berikut penafsirannya untuk dipakai oleh kelompok dalam menilai prosedurnya.
7.     Follower (pengikut), mengikuti gerakan kelompok, secara pasif menerima gagasan yang lain, berfungsi sebagai pendengar dalam diskusi dan pengambilan keputusan.
Sementara itu bagaimana kita menilai dinamika sebuah kelompok, Sri Ratna (1993) telah menguraikan  aspek-aspek yang dinilai dalam sebuah dinamika kelompok, yaitu :
1.     Pengenalan terhadap diri sendiri dan orang lain;
2.     Keterbukaan, mau mendengarkan orang lain, terbuka terhadap pendapat dan saran orang lain;
3.     Disiplin dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar;
4.     Secara sukarela bersedia berpartisipasi dalam kegiatan dinamika kelompok;
5.     Lancar berkomunikasi dengan anggota kelompok lainnya;
6.     Mampu bekerjasama dengan orang lain dan mampu bekerja sama dalam tim;
7.     Mau dan bersedia menghargai pikiran dan pendapat orang lain;
8.     Mampu mengendalikan diri;
9.     Mampu serta bersedia untuk menerima umpan balik (feed back) dari kolega, atasan maupun bawahan.
Aspek-aspek tersebut diatas dapat saya uraikan lebih lanjut menyesuaikan dengan konteks pelatihan dinamika kelompok ataupun outbound dan sejenisnya, dengan penjelasan sebagai berikut : “Pengenalan terhadap diri sendiri dapat dilakukan misalnya lewat permainan “Siapakah Saya” dimana peserta disuruh membuat, melukiskan atau menceritakan segala hal tentang dirinya. Simulasi ini juga sekaligus dapat dipakai untuk ajang perkenalan. Atau bisa juga dengan mencermati potensi diri, khususnya berkaitan dengan hubungan antara konsep diri dan membuka diri, melalui Joharry Window (tentang ini anda bisa baca secara detail pada buku Psikologi Komunikasi tulisan Jalaluddin Rahmat). Setelah itu peserta berkenalan satu sama lain sehingga pada akhirnya semua peserta dapat saling mengenal. Setelah mengenal diri sendiri dan orang lain, setiap peserta harus membuka diri dan menerima saran atau pendapat orang lain dalam kelompoknya, tentunya terutama berkaitan dengan pelaksanaan aktifitas atau simulasi tertentu. Pada saat melaksanakan “performance” inilah pembagian tugas mulai dilakukan. Sejauh mana setiap orang dapat mengerjakan bagian dari tugas kelompok yang dibebankan kepadanya tepat pada waktunya dan dengan hasil yang optimal, maka disiplin dan tanggung jawabnya akan teruji pada tahap ini.
Disiplin dan tanggung jawab ini tentunya harus terlahir dari kerelaan pribadi yang bersangkutan, bukan karena paksaan, tetapi lantaran dia telah masuk dalam kelompok dan bersedia dengan ikhlas hati mengerjakan tugas kelompok. Dalam konteks ini juga diperlukan komunikasi dan kerjasama, serta kesediaan menghargai pendapat orang lain. Ketika ada anggota kelompok yang ‘bermasalah’, misalnya tidak menyelesaikan tugasnya dengan baik atau terlalu memaksakan kehendaknya kepada yang lain, maka respon terhadap kondisi ini juga hendaknya tidak emosional, tetapi tetap dalam nuansa pengendalian diri”
Dengan demikian, dapat saya katakan bahwa dinamika kelompok yang dimaksudkan oleh tulisan ini adalah serangkaian aktifitas atau permainan dalam kelompok sebuah pelatihan dengan metode belajar dari pengalaman atau experience learning, apapun tema pelatihan tersebut. Dinamika kelompok dalam hal ini memainkan sebuah peran sebagai salah satu mesin pembangkit semangat dan gairah kelompok. Sebab sebagaimana diketahui bahwa teori psikologi sekarang jelas telah menunjukkan bahwa kelompok dengan semangat tim yang tinggi akan bekerja lebih baik daripada kelompok yang hanya memiliki sedikit semangat tim.
Dibawah ini saya sajikan 11 sifat kelompok yang berfungsi baik dan kreatif, yang dirangkum Douglas McGregor dari pengamatannya atas manajemen perusahaan-perusahaan besar, sebagaimana diungkap Sheila Rosenberg dalam buku Memimpin Manusia suntingan A. Dale Timpe :
1.     Suasananya cenderung informal, menyenangkan, santai.
2.     Terjadi banyak diskusi dimana setiap orang berperan serta, tetapi berhubungan dengan tugas kelompok.
3.     Tugas atau sasaran kelompok dipahami dan diterima dengan baik oleh para anggota. Ada diskusi bebas mengenai sasaran-sasaran pada satu titik hingga sasaran tersebut dapat dirumuskan dalam suatu cara hingga semua anggota kelompok terikat untuk mencapainya.
4.     Anggota saling mendengarkan satu sama lain. Setiap gagasan dibahas. Orang tampaknya tidak takut karena merasa bodoh mengajukan sebuah gagasan yang kreatif, meskipun kelihatannya ekstrim.
5.     Ada ketidaksepakatan. Ketidaksepakatan tidak ditekan atau dilanggar oleh tindakan kelompok yang prematur. Alasan-alasannya diamati dengan seksama, dan kelompok berusaha untuk memecahkannya bukan mendominasinya.
6.     Sebagian besar keputusan dicapai melalui sejenis konsensus dimana semua orang jelas sepakat dan bersedia mengikutinya. Voting secara resmi jarang sekali dilakukan. Kelompok tidak menerima mayoritas sebagai dasar tindakan yang tepat.
7.     Kritik sering diajukan, terus terang, dan relatif menyenangkan. Hanya ada sedikit bukti serangan kepada pribadi, baik terbuka atau tersembunyi.
8.     Orang-orang bebas mengungkapkan perasaan serta gagasan mereka baik atas masalah atau atas kegiatan kelompok.
9.     Jika dilakukan tindakan, penugasan yang jelas dibuat dan diterima.
10.  Pemimpin kelompok tidak mendominasinya, atau sebaliknya, kelompok tidak bertentangan dengannya. Sebenarnya, kepemimpinan berubah-ubah dari waktu ke waktu, tergantung kepada keadaan. Hanya ada sedikit bukti adanya perjuangan untuk mendapatkan kekuasaan ketika kelompok bekerja. Masalahnya bukan siapa yang mengendalikan, tetapi bagaimana cara menyelesaikan pekerjaan.
11.  Kelompok sadar dengan kegiatannya sendiri.

Kelompok yang sehat dan dinamis dalam perspektif saya, sejatinya senantiasa berdinamika. Dan karena itulah binar pesona sebuah kelompok dan daya tarik dinamika kelompok, mampu melahirkan pribadi-pribadi yang dinamis dan penuh pesona. Semoga catatan kecil ini bisa memberi ‘insight’ bagi siapa saja penggerak kelompok dan penggiat dinamika kelompok. (Yoseph Tien).

0 komentar:

Poskan Komentar

 

welcome to my blog ^^ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea